Loading...
Sponsored By :Kang Anwar.

20 April 2010

BATORO KATONG


PEMBAWA ISLAM PERTAMA & LEGENDARIS PONOROGO
Raden Katong, yang kemudian lazim disebut Batoro Katong, bagi masyarakat Ponorogo mungkin bukan sekedar figur sejarah semata. Hal ini terutama terjadi di kalangan santri yang meyakini bahwa Batoro Katong-lah penguasa pertama Ponorogo, sekaligus pelopor penyebaran agama Islam di Ponorogo.

Batoro Katong, memiliki nama asli Lembu Kanigoro, tidak lain adalah salah seorang putra Prabu Brawijaya V dari selir yakni Putri Campa yang beragama Islam. Mulai redupnya kekuasaan Majapahit, saat kakak tertuanya, Lembu Kenongo yang berganti nama sebagai Raden Fatah, mendirikan kesultanan Demak Bintoro. Lembu Kanigoro mengikut jejaknya, untuk berguru di bawah bimbingan Wali Songo di Demak. Prabu Brawijaya V yang pada masa hidupnya berusaha di-Islamkan oleh Wali Songo, para Wali Islam tersebut membujuk Prabu Brawijaya V dengan menawarkan seorang Putri Campa yang beragama Islam untuk menjadi Istrinya.

Berdasarkan catatan sejarah keturunan generasi ke-126 beliau yaitu Ki Padmosusastro, disebutkan bahwa Batoro Katong dimasa kecilnya bernama Raden Joko Piturun atau disebut juga Raden Harak Kali. Beliau adalah salah seorang putra Prabu Brawijaya V dari garwo pangrambe (selir yang tinggi kedudukannya).

Walaupun kemudian Prabu Brawijaya sendiri gagal untuk di-Islamkan, tetapi perkawinannya dengan putri Cempa mengakibatkan meruncingnya konflik politik di Majapahit. Diperistrinya putri Cempa oleh Prabu Brawijaya V memunculkan reaksi protes dari elit istana yang lain. Sebagaimana dilakukan oleh seorang punggawanya bernama Pujangga Anom Ketut Suryongalam. Seorang penganut Hindu, yang berasal dari Bali.

Tokoh yang terakhir ini, kemudian desersi untuk keluar dari Majapahit, dan membangun peradaban baru di tenggara Gunung Lawu sampai lereng barat Gunung Wilis, yang kemudian dikenal dengan nama Wengker (atau Ponorogo saat ini). Ki Ageng Ketut Suryangalam ini kemudian di kenal sebagai Ki Ageng Kutu atau Demang Kutu. Dan daerah yang menjadi tempat tinggal Ki Ageng Kutu ini dinamakan Kutu, kini merupakan daerah yang terdiri dari beberapa desa di wilayah Kecamatan Jetis.

Ki Ageng Kutu-lah yang kemudian menciptakan sebuah seni Barongan, yang kemudian disebut REOG. Dan reog tidak lain merupakan artikulasi kritik simbolik Ki Ageng Kutu terhadap raja Majapahit (disimbolkan dengan kepala harimau), yang ditundukkan dengan rayuan seorang perempuan/Putri Campa (disimbolkan dengan dadak merak). Dan Ki Ageng Kutu sendiri disimbolkan sebagai Pujangga Anom atau sering di sebut sebagai Bujang Ganong, yang bijaksana walaupun berwajah buruk.

Pada akhirnya, upaya Ki Ageng Kutu untuk memperkuat basis di Ponorogo inilah yang pada masa selanjutnya dianggap sebagai ancaman oleh kekuasaan Majapahit. Dan selanjutnya pandangan yang sama dimiliki juga dengan kasultanan Demak, yang nota bene sebagai penerus kejayaan Majapahit walaupun dengan warna Islamnya. Sunan Kalijaga, bersama muridnya Kiai Muslim (atau Ki Ageng Mirah) mencoba melakukan investigasi terhadap keadaan Ponorogo, dan mencermati kekuatan-kekuatan yang paling berpengaruh di Ponorogo. Dan mereka menemukan Demang Kutu sebagai penguasa paling berpengaruh saat itu.

Demi kepentingan ekspansi kekuasaan dan Islamisasi, penguasa Demak mengirimkan seorang putra terbaiknya, yakni yang kemudian dikenal luas dengan Batoro Katong dengan salah seorang santrinya bernama Selo Aji dan diikuti oleh 40 orang santri senior yang lain.

Raden Katong akhirnya sampai di wilayah Wengker, lalu kemudian memilih tempat yang memenuhi syarat untuk pemukiman, yaitu di Dusun Plampitan, Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan. Saat Batoro Katong datang memasuki Ponorogo, kebanyakan masyarakat Ponorogo adalah penganut Budha, animisme dan dinamisme.

Singkat cerita, terjadilah pertarungan antara Batoro Katong dengan Ki Ageng Kutu. Ditengah kondisi yang sama sama kuat, Batoro Katong kehabisan akal untuk menundukkan Ki Ageng Kutu. Kemudian dengan akal cerdasnya Batoro Katong berusaha mendekati putri Ki Ageng Kutu yang bernama Niken Gandini, dengan di iming-imingi akan dijadikan istri.

Kemudian Niken Gandini inilah yang dimanfaatkan Batoro Katong untuk mengambil pusaka Koro Welang, sebuah pusaka pamungkas dari Ki Ageng Kutu. Pertempuran berlanjut dan Ki Ageng Kutu menghilang, pada hari Jumat Wage di sebuah pegunungan di daerah Wringin Anom Sambit Ponorogo. Hari ini oleh para pengikut Kutu dan masyarakat Ponorogo (terutama dari abangan), menganggap hari itu sebagai hari naas-nya Ponorogo.

Tempat menghilangnya Ki Ageng Kutu ini disebut sebagai Gunung Bacin, terletak di daerah Bungkal. Batoro Katong kemudian, mengatakan bahwa Ki Ageng Kutu akan moksa dan terlahir kembali di kemudian hari. Hal ini dimungkinkan dilakukan untuk meredam kemarahan warga atas meninggalnya Ki Ageng Kutu.

Setelah dihilangkannya Ki Ageng Kutu, Batoro Katong mengumpulkan rakyat Ponorogo dan berpidato bahwa dirinya tidak lain adalah Batoro, manusia setengah dewa. Hal ini dilakukan, karena Masyarakat Ponorogo masih mempercayai keberadaan dewa-dewa, dan Batara. Dari pintu inilah Katong kukuh menjadi penguasa Ponorogo, mendirikan istana, dan pusat Kota, dan kemudian melakukan Islamisasi Ponorogo secara perlahan namun pasti.

Pada tahun 1486, hutan dibabat atas perintah Batara Katong, tentu bukannya tanpa rintangan. Banyak gangguan dari berbagai pihak, termasuk makhluk halus yang datang. Namun, karena bantuan warok dan para prajurit Wengker, akhirnya pekerjaan membabat hutan itu lancar.

Lantas, bangunan-bangunan didirikan sehingga kemudian penduduk pun berdatangan. Setelah menjadi sebuah Istana kadipaten, Batara Katong kemudian memboyong permaisurinya, yakni Niken Sulastri, sedang adiknya, Suromenggolo, tetap di tempatnya yakni di Dusun Ngampel. Oleh Katong, daerah yang baru saja dibangun itu diberi nama Prana Raga yang berasal atau diambil dari sebuah babad legenda "Pramana Raga". Menurut cerita rakyat yang berkembang secara lisan, Pono berarti Wasis, Pinter, Mumpuni dan Raga artinya Jasmani. sehingga kemudian dikenal dengan nama Ponorogo.

Kesenian Reog yang menjadi seni perlawanan masyarakat Ponorogo mulai di eliminasi dari unsur-unsur pemberontakan, dengan menampilkan cerita fiktif tentang Kerajaan Bantar Angin sebagai sejarah reog. Membuat kesenian tandingan, semacam jemblungan dan lain sebagainya. Para punggawa dan anak cucu Batoro Katong, inilah yang kemudian mendirikan pesantren-pesantren sebagai pusat pengembangan agama Islam.

Dalam konteks inilah, keberadaan Islam sebagai sebuah ajaran, kemudian bersilang sengkarut dengan kekuasaan politik. Perluasan agama Islam, membawa dampak secara langsung terhadap perluasan pengaruh, dan berarti juga kekuasaan. Dan Batoro Katong-lah yang menjadi figur yang diidealkan, penguasa sekaligus ulama.

Beliau kemudian dikenal sebagai Adipati Sri Batoro Katong yang membawa kejayaan bagi Ponorogo pada saat itu, ditandai dengan adanya prasasti berupa sepasang batu gilang yang terdapat di depan gapura kelima di kompleks makam Batoro Katong dimana pada batu gilang tersebut tertulis candrasengkala memet berupa gambar manusia, pohon, burung ( Garuda ) dan gajah yang melambangkan angka 1418 aka atau tahun 1496 M.

Batu gilang itu berfungsi sebagai prasasti "Penobatan" yang dianggap suci. Atas dasar bukti peninggalan benda-benda purbakala tersebut dengan menggunakan referensi Handbook of Oriental History dapat ditemukan hari wisuda Batoro Katong sebagai Adipati Kadipaten Ponorogo, yakni pada hari Ahad Pon Tanggal 1 Bulan Besar, Tahun 1418 saka bertepatan dengan Tanggal 11 Agustus 1496 M atau 1 Dzulhijjah 901 H. Selanjutnya tanggal 11 Agustus ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Ponorogo.

Batoro Katong dikenal memiliki sebuah pusaka tombak bernama Kyai Tunggul Naga. Tombak ini memiliki pamor kudung, tangkainya dari sulur pohon jati dan terdapat ukiran naga, dengan ukuran panjang kira-kira 60 cm.

Ada dua versi tentang asal muasal tombak pusaka tersebut. Yang pertama versi keturunan Demang Kutu Ki Ageng Suryangalam dan versi Babad Ponorogo.

Versi keturunan Demang Kutu, menyebutkan bahwa tombak Kyai Tunggul Naga dulunya milik Ki Ageng Suryangalam yang menjadi demang di Kutu. Dimana, Demang Suryangalam yang sebelumnya pujangga di istana Majapahit pergi meninggalkan istana karena kecewa. Nasehat-nasehatnya untuk menata negeri Majapahit tidak didengarkan oleh Prabu Kertabhumi. Menjelang runtuhnya kerajaan besar itu, keadaan negeri semrawut, bobrok. Banyak gerakan separatis ingin memisahkan diri dari Majapahit.

Sikap oposan Demang Suryangalam ini membuat Prabu Kertabhumi marah, ia kemudian menyuruh salah seorang puteranya yang bernama Raden Batara Katong untuk menangkap Demang Suryangalam. Setelah berhasil mengalahkan Demang Kutu, Raden Batara Katong kemudian memiliki tombak Kyai Tunggul Naga. Adapun tombak itu aslinya berasal dari Tuban, pusaka Adipati Tuban Ranggalawe. Tombak Kyai Tunggul Naga dikenal sebagai pusaka yang ampuh.

Sedang menurut versi Babad Ponorogo, tombak Kyai Tunggul Naga diperoleh Batara Katong dari hasil bersemadi di sebuah tanah lapang tanpa rumput sehelai pun yang disebut ara-ara. Waktu itu Ponorogo masih disebut Wengker. Raden Batara Katong ditemani oleh Ki Ageng Mirah, Patih Seloaji dan Jayadipa. Dari ara-ara itu didapatkan tombak Kyai Tunggul Naga, payung dan sabuk.

Sampai saat ini, nama Batoro Katong, di abadikan sebagai nama Stadion dan sebuah jalan utama Ponorogo. Batoro Katong-pun selalu di ingat pada peringatan Hari Jadi Ponorogo, tanggal 1 Suro. Pada saat itu, pusaka tumbak Kara Welang di kirab dari makam Batoro Katong di kelurahan Setono, Kota Lama, menuju Pendopo Kabupaten. Menurut Amrih Widodo (1995), pusaka sebagai artefact budaya memang seringkali diangkat statusnya oleh kekuasaan pemerintah lokal, sebagai totems, suatu yang secara sengaja di keramatkan dan menjadi simbol identitas lokal.

Hal inilah yang menunjukkan Batoro Katong memang tak bisa lepas dari alam bawah sadar masyarakat Ponorogo, dan menjadi simbol masa lalu (sejarah) sekaligus bagian dari masa kini. Batoro Katong bukan sekedar bagian dari realitas masa lalu, namun adalah bagian dari masa kini. Hidup di alam hiperealitas, dan menjadi semacam belief yang boleh emosi, keyakinan, kepercayaan masyarakat. Mengutip The Penguin Dictionary of Psycology, Niniek L.Karim mendefinisikan belief sebagai penerimaan emosional terhadap suatu proposisi, pernyataan dan doktrin tertentu.

Bagi kalangan tokoh-tokoh muslim tradisional, Batoro Katong tidak lain adalah peletak dasar kekuasaan politik di Ponorogo, dan lebih dari itu seorang pengemban misi dakwah Islam pertama. Posisinya sebagai penguasa sekaligus ulama pertama Ponorogo inilah yang menjadi menarik untuk dilacak lebih jauh, terutama dalam kaitan membaca wilayah alam bawah sadar yang menggerakkan kultur politik kalangan pesantren, khususnya elit-elitnya (kyai dan para pengasuh pesantren) di Ponorogo.

Alam bawah sadar inilah yang menurut psikolog Freudian, dominan menggerakkan perilaku manusia. Dan alam bawah sadar ini terbentuk dari tumpukan keyakinan, nilai, trauma-trauma yang terjadi dimasa lalu, yang kemudian hidup terus di bawah kesadaran individu dan suatu masyarakat dari waktu ke waktu.

Bagi masyarakat Ponorogo, Batoro Katong adalah tokoh dan penguasa pertama yang paling legendaris dalam masyarakat Ponorogo. Sampai saat ini Batoro Katong adalah simbol kekuasaan politik yang terus dilestarikan oleh penguasa di daerah ini dari waktu ke waktu. Tidak ada penguasa Ponorogo, yang bisa melepaskan dari figur sejarah legendaris ini.

Komentar :

ada 51 komentar ke “BATORO KATONG”
dwi mengatakan...
pada hari 

saya merasa ada beberapa kesamaan data ( sama persis) antara tulisan di atas dengan blog lain yang pernah saya baca. hanya di beberapa bagian lain yang ada tambahannya. identitas penulisnya:(Kepala Divisi Penerbitan P3M INSURI PONOROGO,Peneliti IRCaS (Institute for Religion and Cultural Studies).

apa hubungan tombak Kyai Tunggul Naga dengan Tombak Kara Welang? setelah membaca tulisan di atas, sepertinya tidak ada kelanjutan secara historis antara keduanya. sehingga tiba-tiba seperti hilang, tombak yang dikirab adalah Kara Welang, sedang Kyai Tunggul Naga ke mana?

hometro mengatakan...
pada hari 

askum...
niki ngartos nasabipun mbah batoro katong nopo mboten nggeh,..kulo cucunipun yai hasan furo gayam meniko cucu ingkan gkaping xxx saking mbah batoro...menawi ngartos, nyuwon kabaripun nggeh, suwon

lutfi asrori = http://www.facebook.com/lutfi.asrori

Lotus Production mengatakan...
pada hari 

Maaf saya ada perbedaan kisah yang pernah saya dengar Bahwa Raden Bethoro Katong dari selir yang aslinya purworejo, dan beliau ke Ponorogo bukan diutus oleh penguasa demak justru di di kejar kejar karena politik dimana penguasa demak keturunan putri cempa sedangkan Raden Katong keturunan asli jawa mohon ada yang dapat menjelaskan secara otentik

Rudy Candra mengatakan...
pada hari 

setahu saya, tombak nya ya Kyai Tunggul Naga, tp dapurnya apa saya belum tau benar, apa mungkin Kyai Tunggul Naga ber dapur Kara Welang (luk 13)?...secara keseluruhan crita yg saya dengar dan baca sama dengan tulisan tersebut diatas. trimakasih

Welcome To Metode Sas mengatakan...
pada hari 

tolong aku diberi nama adipati ponorogo setelah R Katong , seolah-olah setelah R Katong
suasana menjadi gelap

Welcome To Metode Sas mengatakan...
pada hari 

hubungi aku 082141300336

Galuh Tri W mengatakan...
pada hari 

Ada yg tau critanya mbah suratman alias mbah cluring yg menurut crita msih saudara batoro katong

Luhung Perencana Maut mengatakan...
pada hari 

asalamualaikum wr.wb

saya luhung cucu dari R.Sadad

maap saya mau tny

ada yg pny silsilah RADEN BATHARA KATONG sampe sekarang Gak?

Trims

Luhung Perencana Maut mengatakan...
pada hari 

asalamualaikum wr.wb

saya luhung cucu dari R.Sadad

maap saya mau tny

ada yg pny silsilah RADEN BATHARA KATONG sampe sekarang Gak?

Trims

Anonim mengatakan...
pada hari 

saya cicit dari M. Suryodipuro..
adakah yang punya silsilah daro R. Bathoro Katong...
mohon inbox saya via Facebook di

phanditya@yahoo.com

Putra Pradithya...

salam hangat...^_^

Anonim mengatakan...
pada hari 

pengen ngerti SILSILAHE boss!!!!

'benyamin mengatakan...
pada hari 

pandhit, budi waluyo cisanggiri ya?

rachmat semarang mengatakan...
pada hari 

apakah raden sosroamidjojo yang beristri nyai tarwiyah dari ngadiluwih, kediri termasuk dalam keturunan pangeran bathara katong?

Nadya Fafa mengatakan...
pada hari 
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Teguh Budiharso mengatakan...
pada hari 

Saya memberi komentar sedikit mengenaitulisan di atas. Pertama, isi kesejarahan tulisan lbih banyak didasarkan pada keterangan dongeng yang belumjelas. Kedua ada beberapa data yang saya percaya penulis sendiri belum mengkaji dengan cermat. Ini uraian saya.

1. Nama Kanigoro ada dua. Pertama Kebo Kanigoro dan kedua Lembu Kanigoro. Kebo Kanigoro ialah anak Bupati Pengging Handoyoningrat yang ialah menantu Brawijaya V karena menikahi Putri Mbarep Brawijaya V. Kebo Kanigoro punya adik Kebo Kenongo ayah Joko Tingkir. Kebo Kanigoro ini ialah guru Mahesa Jenar yang memiliki ajian Sosro Birowo. Kebo Kanigoro memperoleh ilmu itu dari Lembu Kanigoro yang dalam garis keturunannya ialah Paman karena Lembu Kanigoro yang kemudian bergelar Batoro Katong ialah Adik Putri Pambayun atau adik ipar Bupati Handayaningrat.
2. Ketika Brawijaya V akan muksa di gunung Lawu, lebih dulu beliau beserta Sabdo Palon dan Noyo Genggong bermukim dulu di Banyubiru Salatiga, yang merupakan Kota Raja Kraton Pengging. Selama dalam palereman itu, Bupati Handayaningrat yang melayani semua kebutuhan. Karena itu, ketika terjadi kisah Kebo Gila Jaka Tingkir di Demak pada zaman Sultan Demak ke-3 Trenggono, Jaka Tingkir amat ditakuti. Ini sanepo bahwa wilayah Demak ialah bagian dari Pengging dan ketika Brawijaya V bermukim sebelum ke Gunung Lawu, Brawijaya V menitipkan wilayah ke Pengging. Jadi Jaka Tingkir ialah pewaris sah Pengging karena cucu Handayaningrat. Kebo Kanigoro merupakan pakdenya Jaka Tingkir dan karena tidak punya anak, hak waris ada pada Jaka Tingkir. Namun Jaka Tingkir milih Pajang di Kartasura sebagai pusat kerajaannya dan Pengging menjadi bagian kadipaten kerajaan Pajang.
3. Nama kerajaan Wengker tidak muncul ketika Demang Kutu alias Suryongalam muncul tahun 1468an di Ponorogo. Prasasti Empu Sindok 900M dan Airlangga 1020 M menjelaskan bahwa Wengker sudah ada sejak zaman Mataram Kuno. Wengker bekerjas sama dengan Wora-Wari yang letaknya sekarang di Lawang dan Kanigoro Blitar, pernah menundukkan Darmawangsa Teguh raja Kahuripan sebelum kemudian direbut kembali oleh menantunya Airlangga. Waktu itu, wilayah Wengker mendapat perhatian khusus karena untuk pusat peribadatan dan disebut bersama-sama dengan Perdikan Kampak, Munjungan, Gandusari di Treggalek sekarang. Pada zaman Prabu Hayamwuruk 1368an, Wengker juga memegang peran penting dalam tata pemerintahan karena Permaisuri Hayam Wuruk ialah putri Wengker. Jadi keluarga kerajaan Wengker mendapat porsi kewenangan yang amat penting dalam keluarga raja sepanjang zaman. Setelah Airlangga mundur, kerajaan dibagi 2, Kediri dan Panjalu. Keturunan kedua Airlangga bentrok dan kerajaan Wengker juga berperanan penting.
4. Demang Kutu bukan Putut asal Bali, tetapi memang keluarga raja Wengker yang ditugasi menjadi penasihat raja. Beliau memiliki kelebihan dan kesaktian yang luar biasa karena ilmu warok dari Ponorogo memang sudah ada sejak Mataram Kuno sehingga Wengker walaupun kerajaan kecil amat sulit ditundukkan.

Demikian komentar saya. Teguh Budiharso dr_tgh@yahoo.com HP 081334455566

Help Center mengatakan...
pada hari 

mosok suromenggolo omahe ngampel, tonggoku la'an

Istanto mengatakan...
pada hari 

menarik, tulisan dan komen nya..menambah wawasan dan semoga kita bisa mencontoh semua kebaikan Mereka..amin

Anonim mengatakan...
pada hari 

sangat menarik, saya sendiri juga punya silsilah batorokatong sampai dengan sekarang

Anonim mengatakan...
pada hari 

Dari ulasan diatas cukup baik, hal ini saya ingin mengetahui lebih dalam lagi mengenai putra-putri dari betoro Katong itu siapa saja, kiarena saya ada pada silsilah dari P batoro Katong mohon kejelasanya suwun

Anonim mengatakan...
pada hari 

tolong kl nuis sejarah diberi catatan dr mana sumber yang dipakai, sehingga bisa ditelusuri. Ni fakta sejarah atau hanya dongeng tanpa fakta. ok selamat berkarya lagi.

Anonim mengatakan...
pada hari 

Banyak kesalahan, karena tidak seperti yg di ceritakan nenek ku,,

maav, aku juga keturunan batoro katong,, aku salah siji ney sing kapilih,,

uripku uduk neng ponorogo tp jare ney mbahku nag ora percoyo .. Okon dileng nama ibu ku di tulisan neng batara katong

feri suwarto mengatakan...
pada hari 

sedikit mencermati "mahesa jenar" itu bukannya tokoh fiktif karangan novelis dari jogja

feri suwarto mengatakan...
pada hari 
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
indrah prastyo mengatakan...
pada hari 

Suka

islam indonesia mengatakan...
pada hari 

luar biasa.
batara katong merupakan sosok yang penuh kharismatik dan mempunyia manajerial yang hebat..

Anonim mengatakan...
pada hari 

Mengutip keterangan seorang pakar budaya, sejarah di indonesia sblm datangnya belanda sangat sulit dipercaya sbb tdk memiliki metode periwayatan dan metode pencatatan sejarah yg akurat. Oleh sbb itu, terkait sejarah, kita hanya bisa berucap wallahu a'lam. Sedangkan terkait hikmahnya, monggo kita sama2 menghayati diri kita apa kita dpt mencontoh para tokoh yg dilegendakan tsb terutama dlm kiprah dakwah ilal khoir..

Anonim mengatakan...
pada hari 

Tanya aja langsung ke cicit beliau, Mbah Samikun cucu Umar Sidiq cucunya Betoro Katong dalem beliau di Babadan Ponorogo.

Kanjeng Sinuwun mengatakan...
pada hari 

bingung,KEBO KANIGORO & KEBO KENONGO, anak putri PEMBAYUN,keturunan Ki Ageng Pengging

Kanjeng Sinuwun mengatakan...
pada hari 

bingung,KEBO KANIGORO & KEBO KENONGO, anak putri PEMBAYUN,keturunan Ki Ageng Pengging

singo menggolo mengatakan...
pada hari 

mas anonim email sampean opo...aku jg keturunan raden bathara katong mas.

Anonim mengatakan...
pada hari 

saya keturunannya sang amurwabumi

Muhammad Imron mengatakan...
pada hari 

Sekedar info, paman saya di banyuwangi juga ada silsilah dr raden betoro katong, saya pernah d kasih liat lembar silsilahnya. Yg terlacak masih sampai keluarga d kediri... salam silaturrahim Pak

Anonim mengatakan...
pada hari 

iya silsilah itu dari raja majapahit pertama....susnan derajat...batara kantong....saya yang pegang pegang, paman-nya siapa namanya karna saya dari banyuwangi dan skr berdomisili di plg dan masih saya yang pegang...apa ada revisi yang baru....

Anonim mengatakan...
pada hari 

mbok yo di posting kalo ada yg punya data, tinggal scan dibagikan buat yg mau tau, sapa tau bisa membantu yg pada penasaran....

Anonim mengatakan...
pada hari 

saya ada nih, ketikan jadul, judulnya "BIOGRAFIE : PANGERAN R. Ng. KASANJACOEB"...konon dari tulisan itu :
Pangeran Batoro Katong (putra : R.M. Brotonagoro)
R.M. Brotonagoro (putra : R.M Brotoleksono)
R.M. Brotoleksono (putra : 1 (satu) putri.
=======oOo=====
Ki Ageng Djopo (Demak) (putra : putri daup Ki Ageng Toewan.
Ki Ageng Toewan (Kartasura) : (putra : Kasanjacoeb)
R.M. Brotoleksono besan Ki Ageng Toewan.
R. Ng. Kanjacoeb (magelang) : (putra : 1. R.R. Koesen (Bandar) 2. R. Imam Mangoendihardjo. 3. R. Moesman Soerodihardjo. 4. R. Djahet Martoharjo)
dst, dstnyaaaaa...........
ada yg minat?

Anonim mengatakan...
pada hari 

mending ngurut kebawah ajalah, mulai Pangeran Batoro Katong kebawah.....yooohhh, sapa tau kita sedulur...keturunan Pangeran...kan kereeennnnn?

Anonim mengatakan...
pada hari 

bikin deh REUNI AKBAR KELUARGA KETURUNAN PANGERAN BATORO KATONG...........mantaaabbbsss

AGEN PERUBAHAN mengatakan...
pada hari 

aku membaca ini karena diminta istriku mencarikan siapakah bethara kathong itu? Sebab sering bermimpi ditemui oleh beliau.

AGEN PERUBAHAN mengatakan...
pada hari 

aku membaca ini karena diminta istriku mencarikan siapakah bethara kathong itu? Sebab sering bermimpi ditemui oleh beliau.

AGEN PERUBAHAN mengatakan...
pada hari 

aku membaca ini karena diminta istriku mencarikan siapakah bethara kathong itu? Sebab sering bermimpi ditemui oleh beliau.

AGEN PERUBAHAN mengatakan...
pada hari 

aku membaca ini karena diminta istriku mencarikan siapakah bethara kathong itu? Sebab sering bermimpi ditemui oleh beliau.

AGEN PERUBAHAN mengatakan...
pada hari 

aku membaca ini karena diminta istriku mencarikan siapakah bethara kathong itu? Sebab sering bermimpi ditemui oleh beliau.

AGEN PERUBAHAN mengatakan...
pada hari 

aku membaca ini karena diminta istriku mencarikan siapakah bethara kathong itu? Sebab sering bermimpi ditemui oleh beliau.

arsalan kay mengatakan...
pada hari 

kata bapakku yang katanya masih keturunan citro wiryo yang makamnya dikatong ponorogo yang katanya masih keturunannya,bilang klo ada semacam warisan yang diberikan pada anak cucu trah dr R.katong,contonya pakdeku dulu punya semacam foto jadul kraton surakarta dimana jika kita datang kekraton solo kita gak ribet dengan prosedurnya karena itu identitas kluarga/ID passnya,tpi sama pakdeku dahdijual keorang sayang memang!?,ada juga pusaka2 yang sekarang masih disimpan dirumah nenek tapi dirawat apa gak aku kurang tau,nenek sebelum meninggal pernah bilang klo pernah diajak kemakam dimana siapa saja yang masih keturunan bisa merangkul makam itu akan tercapai tujuannya,ada juga yang gak bisa, itu cerita nenek,?! klo dari sodaraku di sumoroto dideket keprabon kakek ku ada pohon jati besar yang kata kyai ada pusaka 2 jenis berwujud tombak dan keris,katanya nanti suatu saat akan menampakkan ujud dan ikut pada salah satu dari kami cucu-cucunya,ada juga pesan dari canggah klo marah sama orang jangan sampai menampar pake tangan kiri lebih baik pukul aja,kluarga kami juga mengadakan arisan kluarga tapi karena keturunan yang berada dibarat ponorogo banyak yang ekonomi lemah akhirnya kami jarang ikut.sepupuku juga pernah berkunjung ke makam raja dijogja dia bilang klo ada hawa misterius yang terasa jika kita bener2 keturunan,dari keterangan yang kami tahu bahwa raja jogja solo ponorogo itu ada hubungan sodara,saya sendiri tau hanya dari cerita,yang kadang aku heran pernah kejadian berkali2 sewaktu aku marah sama seseorang dan mengucap kata2 apa yang aku sebut jadi kenyataan dan menimpa orang tersebut, entah itu takdir atau apa itu rahasia allah,pernah juga aku disuruh mencari sodara yang tinggal dijakarta tapi entah dimana alamatnya, yang sudah sukses,tpi dia lom nikah,aku bingung!? bagaimana bisa menemukannya? sampe sekarang lom ketemu (klo ada informasi mohon hub nmr 082327880421 saya sekarang tinggal dibogor) maaf untuk menyebut nama kakek dan semua trah kluarga kami saya tdk hafal karena ada dilembar yang dibawa sodara di sumoroto,yang jelas bapak klo nyekar ke citrowiryo dimakam katong karena masih trah.

arsalan kay mengatakan...
pada hari 

kata bapakku yang katanya masih keturunan citro wiryo yang makamnya dikatong ponorogo yang katanya masih keturunannya,bilang klo ada semacam warisan yang diberikan pada anak cucu trah dr R.katong,contonya pakdeku dulu punya semacam foto jadul kraton surakarta dimana jika kita datang kekraton solo kita gak ribet dengan prosedurnya karena itu identitas kluarga/ID passnya,tpi sama pakdeku dahdijual keorang sayang memang!?,ada juga pusaka2 yang sekarang masih disimpan dirumah nenek tapi dirawat apa gak aku kurang tau,nenek sebelum meninggal pernah bilang klo pernah diajak kemakam dimana siapa saja yang masih keturunan bisa merangkul makam itu akan tercapai tujuannya,ada juga yang gak bisa, itu cerita nenek,?! klo dari sodaraku di sumoroto dideket keprabon kakek ku ada pohon jati besar yang kata kyai ada pusaka 2 jenis berwujud tombak dan keris,katanya nanti suatu saat akan menampakkan ujud dan ikut pada salah satu dari kami cucu-cucunya,ada juga pesan dari canggah klo marah sama orang jangan sampai menampar pake tangan kiri lebih baik pukul aja,kluarga kami juga mengadakan arisan kluarga tapi karena keturunan yang berada dibarat ponorogo banyak yang ekonomi lemah akhirnya kami jarang ikut.sepupuku juga pernah berkunjung ke makam raja dijogja dia bilang klo ada hawa misterius yang terasa jika kita bener2 keturunan,dari keterangan yang kami tahu bahwa raja jogja solo ponorogo itu ada hubungan sodara,saya sendiri tau hanya dari cerita,yang kadang aku heran pernah kejadian berkali2 sewaktu aku marah sama seseorang dan mengucap kata2 apa yang aku sebut jadi kenyataan dan menimpa orang tersebut, entah itu takdir atau apa itu rahasia allah,pernah juga aku disuruh mencari sodara yang tinggal dijakarta tapi entah dimana alamatnya, yang sudah sukses,tpi dia lom nikah,aku bingung!? bagaimana bisa menemukannya? sampe sekarang lom ketemu (klo ada informasi mohon hub nmr 082327880421 saya sekarang tinggal dibogor) maaf untuk menyebut nama kakek dan semua trah kluarga kami saya tdk hafal karena ada dilembar yang dibawa sodara di sumoroto,yang jelas bapak klo nyekar ke citrowiryo dimakam katong karena masih trah.

Anonim mengatakan...
pada hari 

Sejarah Nusantara sdh diacak2 Dahulu Oleh Belanda. Semuanya ditautkan ke Brawijaya V. Baik Bathoro Kathong-Kyai Ageng Brondong- Pandanaran - Bindoro Saut Sumenep... Kesengajaan ini dilakukan Oleh Belanda utk mengkaburkan Data Silsilah Dzuriah Nabi Muhammad رسول الله صلى الله عليه وسلم . Agar tercerai berai. Sekarang Saatnya kita Bersatu membuka lembaran2 Baru Utk KEBANGKITAN NUSANTARA. وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابْ

sekarang sdh terbuka semua lewat naskah naskah kuno dan silsilah silsilah kuno yg ga sempat diangkut pulang ke belanda
"BETHORO KHATONG BUKAN ANAK BRAWIJAYA tapi Cucu Brawijaya, Krn Ayahnda nya Yaitu Prabu Handayaningrat / Ki Ageng Panging Sepuh Adipati Penging adalah menantu Prabu Brawijaya V. Nama Lain Bethoro Khatong adalah KEBO KANIGORO , kakak adik dgn Kebo Kenongo alias Ki Ageng Penging................."

Dalam kitab kuno bahwa Sunan Geseng adalah Kyai Ageng Gribig murid sunan kalijaga dari Kediri dan mengabdi ke sunan tembayat dan saya menemukan nama lain Bethoro Khatong Ponorogo 1 / Kediri / Jawa Timur adalah Sunan Geseng .....

Nah dua putri Bethoro Khatong menikah dgn sayyid, yg satu di nikah oleh Panembahan Agung / sayyid kalkum wotgaleh makam di ponorogo bergelar Adipati Ponorogo 2 / Bethoro Khatong 2 ..... ( Krn menikah dgn putri pertama bethoro khatong jd meneruskan jabatan mertuanya) Putri yg kedua yaitu Nyai Ageng Kendal Kaliwungu menikah dgn Sunan Tembayat.

Jadi kesimpulannya dua putri bethoro khatong menikah dgn klrg pangeran tumapel bin ampel denta bin maulana malik ibrahim asmoro qandi bin syeikh jumadil qubro. Mangga di cek ulang berdasar beberapa literatur. Sedang bethoro khatong yang 1 adalah nama lain dari kebo kanigoro bin sayyid handayaningrat Bethoro khatong di utus raden patah ke kediri utk menyebarkan agama islam. Dan menjadi penguasa di ponorogo disana setelah itu bethoro khatong alias kebo kanigoro hijrah / lari ke arah jawa tengah .... Merapi, lawu dan sekitarnya bahkan hingga ke klaten ( bayat dan jatianom ), karena dianggap akan memberontak terhadap Demak.

Jika di telusuri alur galur silsilah Bethoro Khatong 1 alias Sunan Geseng alias Kebo Kanigoro adalah Putra dari Prabu Handayaningrat Penging Sdg nama Prabu Handayaningrat adalah Sayyid Muhammad Kebungsuan Kelantan bin syeikh jumadil qubro dari Tulisan penghulu cirebon pada masa itu.

Disarikan dari naskah kuno Panembahan Kajoran tahun 1677 yg naskah aslinya memakai huruf jawa dan arab gundul. Waalloohu’alam intaha.
(Dikutip dari : Tulisan Trah Kajoran “Nyai AGeng Kajoran”)

Anonim mengatakan...
pada hari 

Banyak yg ngaku keturunan eyang batara katong ya.. hehehe,, ya sudah saya melipir saja hehe..

Anonim mengatakan...
pada hari 

MBOH AKU KETURUNANE SOPO, SOPO WAE SING NURUNKE AKU BAGI MEREKA AL-FAATIHAH.................

Admin379 mengatakan...
pada hari 

salam kenal...

kebetulan saya tinggal di surabaya, sy br 2 kli masuk makam batara katong, yg pertama (saya, ortu, adik) pd hr biasa saya masuk samapi ke dlm makam, yg kedua pada 2013 saat 1 hr sebelum suro dan mlm suro an, tdk dapat masuk krn byk acara, jd cmn bisa dzikir/doa dr luar sj, pada jam 24.00 mlm suro listrik dimatikan kurang lebih satujam, gelap gulita...serem hanya terdengar org berdzikir,

kalo arisan keluarga sdh ada tiap tahun setelah lebaran dr berbagai kota kumpul, pindah2 tempat kata org tua saya begitu, cmn dr trah mana saya kurang tahu, krn sy belum pernah ikut, moga tahun ini ada di jawa timur jd dekat.

kalo suro an coba main saja kesana, byk yg datang dr berbagai kota, banyak acara

kalo saya kebetulan ada saudara disana sekitar 200mtr dr gedong/makam, kalo ayah saya bilang dr nenek asli orang Setono masih keturunan dr trah xxx (maaf tdk sy sebutkan) masuk dlm garis keturunan batara katong

ngak apa2 main2 saja kesana, terutama kalo suro,... ngopi di depan makam, ... mantap kopi nya,... bener2 bikin melek... samapi subuh

salam kenal

Aslen Arif mengatakan...
pada hari 

Mau nanya kang... Sarehan atau makam raden bathoro katong sebenarnya ada di ponorogo apa di kendal. Nuwun

Penginapan Griya Laras Ati Ngebel mengatakan...
pada hari 

mantap diskusinya

Poskan Komentar

ayat al-qur'an

MONGGO SHOLAT

Blok Keluarga

 
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Reader Community

This Blog is proudly powered by Blogger.com | Template by Angga Leo Putra